Aku males ngelanjutin cerita-cerita aku yang dulu. Aku memeang kayak gitu, cepat bosen. Aku mau ganti cerita ah.... Let's Reading ==>
Lenna mengemasi barangnya dengan kesal. Dia akan pindah ke Jepang, ke tempat saudaranya. Papa pindah kerjaan. Jadi, selama Lenna di Jepang, dia akan menginap di apartemen saudaranya. Tempatnya di Anjou-shi, Aichi-ken, Jepang.
Setelah mengemasi barang, Lenna turun dengan koper putih-nya. Dia turun ke lantai bawah untuk sarapan. Sarapan kali ini adalah sup jagung manis, pancake, dan es jeruk. Makanan penutup cupcake. Itu semua makanan kesukaan Lenna, tapi entah mengapa mood makannya hilang.
Selesai sarapan, Lenna membawa kopernya dan dimasukan ke bagasi mobil. Dia duduk di kursi tengah. Setelah semua keluarga masuk ke dalam mobil. Wushh.......... mobil berangkat. Tentunya berangkat ke bandara. Sesampainya di bandara..........
Mama pergi ke sebuah ruangan, mungkin pengecekkan paspor. Sedangkan Papa membawa koper ke meja yang berjalan, dia nggak tau apa namanya. Dan dia sendiri duduk di ruang tunggu bersama saudara kembarnya, Lenni. Lenni memang mirip dengan Lenna. Tapi hidung Lenna lebih mancung.
Lenni duduk sambil memainkan ponsel-nya, sedangkan Lenna bermain laptop. Dia menulis artkel di blognya. Tiba-tiba...........
"Dimohon untuk penumpang pesawat Japan Airlines, segera memasuki pesawat. Pesawat akan take off beberpa menit lagi," Kata seseorang. Lenna, Lenni, Papa, dan Mama berjalan menuju pesawat.
~BERSAMBUNG~
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Senin, 30 Desember 2013
Jumat, 20 Desember 2013
Cita-cita Chatrina
Chatrina melihat jendela kamarnya, meratap langit yang cerah. Langit yang cerah tidak secerah hati Chatrina. Chatrina selalu sedih, jika dia membayangkan kelak masa depannya ia tidak punya cita-cita. Ya, Chatrina anak kelas 5 SD di Girlz International School. Chatrina selalu diejek karena tidak punya cita-cita. Dia diejek kelak masa depannya, dia akan menjadi remaja yang pengangguran. Chatrina tidak mau terjadi hal itu.
Chatrina membuka buku diary-nya, tepat pada halaman yang kosong. Chatrina menulis kejenuhan hatinya memikirkan cita-cita.Curhatnya kali ini ia salin ke komputer dan menyimpannya di file komputer.
Suatu hari, ketika Chatrina sedang sekolah, Mama membereskan kamarnya. Mama mengecek komputer, dan ternyata komputernya masih hidup dan file curhat Chatrina dibaca Mama. Mama tersenyum, Mama menge-print tulisan Chatrina dan mengrimkannya ke penerbit.
Dan........ ternyata karyanya di terbitkan. Chatrina saat itu tidak mengerti, lalu Mama menceritakannya kepada Chatrina. chatrina pun senang dan menerima honor-nya. Uang honor itu ia pergunakan untuk membeli kamera.
Chatrina memotret banyak foto. Foto-foto hasil jepretannya pun ia gunakan untuk menghiasi tulisannya dan dikirim ke penerbit. Hingga ada yang mau merekomendasikannya sebagai photograper cilik. Hasil jepretannya selalu untuk menghiasi tulisannya dan tulisannya di kirim ke penerbit. Hingga terus-terus begitu sampa ia berusia 18 dan seterusnya.
Kini Chatrina mempunyai cita-cita, walaupun cita-cita sambilan. Kadang menjadi photograper, kadang menjadi penulis buku. Walaupun begitu, Chatrina senang karena cita-citanya berbeda dengan yang lain. :) :)
GOOD CHATRINA!!!!!
Chatrina membuka buku diary-nya, tepat pada halaman yang kosong. Chatrina menulis kejenuhan hatinya memikirkan cita-cita.Curhatnya kali ini ia salin ke komputer dan menyimpannya di file komputer.
Suatu hari, ketika Chatrina sedang sekolah, Mama membereskan kamarnya. Mama mengecek komputer, dan ternyata komputernya masih hidup dan file curhat Chatrina dibaca Mama. Mama tersenyum, Mama menge-print tulisan Chatrina dan mengrimkannya ke penerbit.
Dan........ ternyata karyanya di terbitkan. Chatrina saat itu tidak mengerti, lalu Mama menceritakannya kepada Chatrina. chatrina pun senang dan menerima honor-nya. Uang honor itu ia pergunakan untuk membeli kamera.
Chatrina memotret banyak foto. Foto-foto hasil jepretannya pun ia gunakan untuk menghiasi tulisannya dan dikirim ke penerbit. Hingga ada yang mau merekomendasikannya sebagai photograper cilik. Hasil jepretannya selalu untuk menghiasi tulisannya dan tulisannya di kirim ke penerbit. Hingga terus-terus begitu sampa ia berusia 18 dan seterusnya.
Kini Chatrina mempunyai cita-cita, walaupun cita-cita sambilan. Kadang menjadi photograper, kadang menjadi penulis buku. Walaupun begitu, Chatrina senang karena cita-citanya berbeda dengan yang lain. :) :)
GOOD CHATRINA!!!!!
Sepatu Roda
Hai, namaku Giselle Varhita. Panggil aja Giselle. Aku anak orang kaya. Aku memiliki banyak koleksi Sepatu roda, semua itu pemberian Mama dan Papa. Aku senang sekali jika suatu saat, Mama atau Papa pulang membawa hadiah sepatu roda buat aku. Aku ingin warna sepatu roda-ku lengkap walaupun sebenarnya sudah lengkap.
Suatu hari, saat aku sedang berjalan dengan sepatu roda ku yang berwarna oranye, aku melihat temanku Femi sedang tertunduk lesu di bangku sebuah taman. Aku mendekati Femi, melepas headset dari telingaku dan.....
"Kamu kenapa Femi?" Tanyaku. Femi melihatku, dan melihat sepatu rodaku, lalu ia menundukan kepalanya lagi.
"Kamu mau sepatu roda?" Tawarku. Femi hanya diam, tak mengeluarkan sepatah kata pun. Tapi akhirnya dia melontarkan kata-kata,
"Iya aku sangat ingin sepertimu. Kamu anak orang kaya dan mempunyai banyak sepatu roda. Sedangkan aku hanyalah rakyat jelata, minta dibelikan sepatu roda pun pasti tidak akan dibelikan." Jawab Femi.
"Hmmm........ udah ah, aku jadi nggak enak sama kamu. Kamu mau nggak ikut aku ke rumahku? Ohya, kamu suka warna apa?" Tanyaku.
"Hm... aku mau kok ikut kamu ke rumahmu. Aku senang banget bisa datang ke rumah anak orang kaya. Eum.... kenapa tiba-tiba kamu tanya kayak gitu? Aku suka warna putih susu." Jawab Femi. Aku pun menarik tangan Femi menuju rumahku.
Kuajak Femi ke ruang dimana aku menyimpan seluruh koleksi sepatu roda. Aku melirik ke sepatu roda berwarna putih susu yang ada dua. Aku mengambil salah satunya dan memberikan kepada Femi. Dengan begitu sepatu rodaku tetap lengkap warnanya.
"Wah! terima kasih Giselle. Kamu baik sekali, aku janji akan merawat sepatu roda ini dengan baik." Ujar Femi senang. Aku hanya tersenyum, aku senang dapat berbagi kebahagiaan dengan orang lain.
GOOD GISELLE!!! :)
Suatu hari, saat aku sedang berjalan dengan sepatu roda ku yang berwarna oranye, aku melihat temanku Femi sedang tertunduk lesu di bangku sebuah taman. Aku mendekati Femi, melepas headset dari telingaku dan.....
"Kamu kenapa Femi?" Tanyaku. Femi melihatku, dan melihat sepatu rodaku, lalu ia menundukan kepalanya lagi.
"Kamu mau sepatu roda?" Tawarku. Femi hanya diam, tak mengeluarkan sepatah kata pun. Tapi akhirnya dia melontarkan kata-kata,
"Iya aku sangat ingin sepertimu. Kamu anak orang kaya dan mempunyai banyak sepatu roda. Sedangkan aku hanyalah rakyat jelata, minta dibelikan sepatu roda pun pasti tidak akan dibelikan." Jawab Femi.
"Hmmm........ udah ah, aku jadi nggak enak sama kamu. Kamu mau nggak ikut aku ke rumahku? Ohya, kamu suka warna apa?" Tanyaku.
"Hm... aku mau kok ikut kamu ke rumahmu. Aku senang banget bisa datang ke rumah anak orang kaya. Eum.... kenapa tiba-tiba kamu tanya kayak gitu? Aku suka warna putih susu." Jawab Femi. Aku pun menarik tangan Femi menuju rumahku.
Kuajak Femi ke ruang dimana aku menyimpan seluruh koleksi sepatu roda. Aku melirik ke sepatu roda berwarna putih susu yang ada dua. Aku mengambil salah satunya dan memberikan kepada Femi. Dengan begitu sepatu rodaku tetap lengkap warnanya.
"Wah! terima kasih Giselle. Kamu baik sekali, aku janji akan merawat sepatu roda ini dengan baik." Ujar Femi senang. Aku hanya tersenyum, aku senang dapat berbagi kebahagiaan dengan orang lain.
GOOD GISELLE!!! :)
Langganan:
Postingan (Atom)